Baru Tersadar, Ternyata Ujian itu Bisa Menjadi Rizqi bagi Orang Lain
Berawal dari (hanya) mampetnya (tidak mengalirnya) air PDAM di rumah. Saya (dan Istri) muncul perasaan khawatir. Khawatir akan sulitnya mendapatkan air bersih, yang notabene terbiasa menggunakan air dari PDAM untuk kebutuhan sehari-hari (selain untuk minum dan masak). Kekhawatiran akan adanya pengeluaran ekstra, menginat keuangan sedang dalam kondisi berhemat untuk bulan-bulan ini.
Sehari ditunggu, air mengalir tak kunjung datang. Besoknya kami berikhtiar untuk melaporkan ke PDAM (Surabaya) perihal tidak mengalirnya air di rumah kami. Dan seperti biasanya, standar pelayanan yang menurut saya kurang (kalau tidak boleh dikatakan tidak) cepat dalam penanganan (setelah pelanggan melaporkan tentang permasalahannya), CS seperti biasa mengatakan “Baik bapak, laporan sudah kami buat dan kami laporkan, paling cepat akan dicek kelokasi besok”. See…, paling cepat akan dicek kelokasi besok :) . Karena ini bukan pengalaman saya yang pertama dalam melaporkan tidak mengalirnya air dari PDAM, maka saya sudah menebak, bahwa CS akan mengatakan seperti itu.
Hari kedua menunggu, dan sesuatu yg kami harap terjadi tidak terjadi (apa lagi kalau bukan mengalirnya air dari pipa saluran PDAM). Kekhawatiran kami terus meningkat, akan habisnya stok persediaan air (di tandon) yang semakin menipis. Tak lupa do’a terus kami panjatkan kepada Allah, atas permasalahan yang kami hadapi diantara waktu2 yang mustajab. Berharap ke Maha Murahan Allah untuk memberikan solusi yang terbaik atas permasalahan hamba-Nya.
Hari ketiga menungu, hasilnya pun tetap tidak ada perubahan. Kami menyadari sesadar-sadarnya, bahwa ini adalah ujian yang datangnya dari Allah. Dan menyadari bahwa, wujud cinta Allah pada hamba-Nya, dengan memberi ujian pada hamba-Nya. Semakin cinta, semakin tinggi ujian yang diberikan. Bukti bahwa Allah mencintai dengan memberikan ujian adalah, kita tidak dapat menampik, bahwa makhluk yang paling Allah cintai adalah Nabi dan para Rasul, dan ujian paling berat yang dihadapi oleh umat-Nya adalah ujian yang diterima oleh para Nabi dan Rasul.
Jadi anggapan yang kurang tepat (kalau tidak bisa dikatakan keliru), jika ada orang yang berkata “Saya sudah shalat 5 waktu, sudah shalat tahajud, sudah shalat dhuha, tapi kenapa permasalah hidup tetap saja menghampiri”. Inilah hidup, inilah wujud cinta Allah kepada hamba-Nya. Semakin kita mendekat pada Allah, semakin kita cinta kepada Allah, semakin tinggi ujian yang diberikan oleh Allah kepada kita. Dan ingatlah, ketika kita lulus atas ujian yang diberikan Allah, semakin tinggi kemuliaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Dan ingatlah, hidup itu adalah ujian, yang telah selesai masa ujiannya adalah orang-orang yang sudah dipanggil (meninggal) oleh Allah.
Hari ke empat. Air terakhir akhirnya habis, walaupun sudah kami (baca: saya) siasati untuk tidak mandi di rumah, dan piring dan peralatan kotor serta cucian tidak kami sentuh, hanya untuk memperpanjang waktu ketersediaan air lebih lama. Tetap saja, kebutuhan akan air untuk bersuci dari hajad besar dan kecil tidak bisa terelakkan.
Akhirnya, solusi untuk pengadaan air yang belum ada, dengan mencari penjual air gledekan (keliling). Setelah menemui orang yang dimaksud, di perjalanan pulang ke rumah itulah, saya tersadar bahwa dibalik ujian yang diberikan Allah pada hambanya, terdapat rizqi orang lain. Itulah (salah satu) cara Allah memberikan rizqi pada hamba-Nya. Orang diuji dengan sakit, merupakan rizqi bagi dokter atau toko obat. Orang diuji dengan rumah bocor, merupakan rizqi bagi tukang talang atau sejenisnya, dll.
Ketika saya menyadari –sembari tetap berdoa kepada Allah, dan menerima bahwa inilah ujian yang memang harus dilalui sebagai makhluk yang masih bernyawa–, bahwa dengan kejadian ini kita janganlah merasa apa yang kita hadapi itu hanya berdampak bagi diri kita, tetapi ternyata ujian yang kita hadapi juga dapat berdampat (menjadi solusi) bagi orang lain.
Semoga dengan tulisan ini, dapat meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat Allah dan kesabaran kita terhadap segala ujian Allah. Wallahu A’lam Bishawaab